Kamis, 29 September 2016

Hadiah Doa untuk Bunda

     Di sudut kamar yang cukup luas , terlihat sosok perempuan duduk di kursi roda sedang memandang langit biru melalui jendela kamarnya, ia selalu berharap ada secercah harapan yang kan membawanya menuju kebahagiaan sejati, mengeluarkannya dari kegelapan yang selama ini mengubur jiwanya, memberinya sayap untuk terbang melihat dunia luar, harapan yang dulu ada pada diri kecil itu telah menjadi cerita belaka yang hampir setiap hari mengusik telinganya. Harapan itu telah punah, telah merenggut semuanya. Tapi ia selalu yakin bahwa itu semua adalah yang terbaik diberikan oleh sang Khalik.
    Zakkiyah bakhitah khansa, seorang gadis kecil yang selama satu tahun ini hidup dalam kegelapan, hanya bisa membawa harapan melalui mimpi, penyakit yang menimpanya telah merenggut kebahagiaannya. Akibat kejadian itu, ia menjadi gadis yang penyendiri, ia merasa minder dengan anak-anak sebayanya yang dapat menikmati indahnya hidup, baginya, ia bagaikan seorang gadis yang tak berdaya, menunggu apa yang akan terjadi pada dirinya, akan kah keajaiban itu datang ?, atau malah musibah yang tambah menghancurkannya.
“ Sarapan dulu gadis kecil, Bunda sudah siapkan makanan kesukaan Khansa…”
Sosok perempuan setengah baya, kira-kira berumur 45 tahun, dengan suara yang penuh kasih sayang, dengan kelembutan, gerak gerik yang sangat bijksana menghampiri gadis itu, Khansa. Bunda memeluknya dari belakang, begitu hangatnya kasih sayang seorang Ibu.
“ Khansa sudah kenyang “
“ hmmm..,, masa sih?, coba dulu deh masakan Bunda, kalau sudah coba satu kali pasti mau tambah “
“ kan Khansa sudah bilang, Khansa sudah kenyang “
“ ini Ayah bawakan makanannya…”
  Sosok laki-laki separuh baya, kira-kira berumur 47 tahun, membawa nampan yang diatasnya ada beberapa piring dan mangkuk yang berisi makanan kesukaan gadis kecilnya itu.
   Khansa hanya menggeleng kepalanya, kali ini ia tidak mengeluarkan kata-kata lagi.
“ makan dulu sayang, sedikit saja, biar Bunda suapin yah..”. bunda mengangkat mangkuk yang berisi sup jagung dan berusaha menyuap Khansa.
“ Khansa tidak lapar Bunda. Biarpun Khansa selalu makan, tetap saja Khansa seperti ini, duduk di kursi roda dan hanya mengharapkan bantuan orang lain, tidak bisa berbuat apa-apa “
Bunda yang mendengar kalimat itu serasa hatinya telah tercabik-cabik, merasakan penderitaan gadis kecilnya itu.
“ kita harus tetap berusaha Khansa, bertawakkal kepada Allah, Allah selalu mendengar doa kita,Allah selalu berada didekat kita “ . Mata Bunda berkaca-kaca, tidak sanggup menahannya.
  kalau memang begitu, kenapa keajaiban itu belum datang, Allah tidak mendengar doa kita Bunda, dia mengacuhkan kita “
Hati bunda terasa sangat sakit saat putrinya mengeluarkan kalimat itu. Apa itu bentuk keputusasaan putrinya?.
“ Allah itu maha mendengar, kita harus percaya, ini adalah yang terbaik untuk kita “
Air mata Bunda begitu deras membasahi pipinya, ia harus beruasaha tegar di hadapan putrinya itu, ia harus tetap memberinya semangat untuk sembuh.
  Kecelakaan satu tahun yang lalu telah melumpuhkan kedua kakinya, saat itu  kedua orang tuanya memberinya hadiah untuk merayakan hari ulang tahunnya di puncak bersama keluarga besarnya, tetapi rencana Allah lain, mobil yang dilewati Khansa dan orang tuanya menabrak pohon dipinggir jalan, untungnya kedua orang tuanya  tidak mengalami luka yang parah. Tetapi, Khansa yang saat itu dalam keadaan kritis, ia mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya, dan efek lainnya, ia menjadi buta. Ia berhasil melewati masa kritis setelah 9 hari.
  Setelah keadaannya membaik, ia mencoba untuk kembali masuk ke sekolah, tetapi setelah seminggu, Khansa memutuskan untuk homeschooling, ia memanggil guru privat untuk membimbingnya dalam pelajaran umum maupun agama. Khansa adalah seorang anak gadis yang penuh dengan semangat, kecelakaan waktu itu tidak cepat membuatnya putus asa,tetapi mungkin keadaanlah yang membuatnya seperti sekarang ini, ia menjadi pesimis akan kesembuhannya, akhir-akhir ini ia sering mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat kedua orang tuanya sangat prihatin kepadanya, terutama Ibunya. Ibunya selau menyalahkan dirinya sendiri, ia selalu diikuti rasa bersalah, karena kado ulang tahunnya itu adalah usulan darinya, meskipun Ayah selalu menasehatinya, tetapi ia selalu diikuti rasa bersalah itu.
  “ Bunda kenapa? “
“ tidak apa-apa Ayah “
“ Allah melarang kita untuk berlarut-larut dalam kesedihan “
“iya, Ayah benar. Bunda selalu dihantui rasa bersalah, saat kalimat-kalimat itu keluar dari mulut Khansa, Bunda merasa keputusasaan itu muncul dari dirinya, Bunda tidak ingin itu terjadi, tapi Bunda tidak bisa memaksa Khansa untuk berfikir seperti itu, karena Khansa wajar merasa seperti itu “
“ apa maksud Bunda Khansa wajar merasa seperti itu?, ingat Bunda, tidak ada yang mustahil jika kita terus berusaha dan bertawakkal kepada Allah “
“ Bunda menyayanginya Ayah…” .
Derai air mata membasahi pipi sang Bunda,menangis tersedu-sedu, betapa hatinya sangat terluka saat itu, ia juga merasakan penderitaan gadis kecilnya.
  Di dalam kamar, Khansa terlihat sedang bersandar ditempat tidur, ia merasa hari-hari yang ia lewati terasa hampa, hanya menunggu keajaiban datang.  Saat ia termenung, ia teringat sesuatu, saat ia sadar bahwa tidak mungkin mencari benda itu tanpa bantuan orang lain, ia meminta tolong kepada salah satu pembantu di rumahnya.
“ Bibi..,, Bii…!! “
“ iya non, ada apa ? “
“ tolong carikan aku sebuah kotak kado warna merah jambu, ada pita disisi ujung kanannya, kayaknya aku simpan di lemari kecil dekat meja rias “
“ baik non..”
  Setelah beberapa menit, Bibi pun menemukannya.
“ ini non..”
Setelah menemukannya, Bibi segera melanjutkan pekerjaannya di dapur.
   Khansa meraba kotak kado itu lalu membukanya, dengan perlahan ia membuka tutup kotak itu dan mengambil sebuah voice recorder, sebuah alat perekam suara. Saat ia menekan tombol power, terdengar suara perempuan.
“ Khansa adik ku, selamat hari ulang tahun Gadis kecil, semoga dengan bertambahnya umur kamu yang ke 11 tahun, Khansa menjadi gadis yang berakhlak mulia seperti sayyidati Khadijah, secerdas sayyidati Fatimah. Khansa harus menjadi perempuan yang tangguh, tidak cepat putus asa, walaupun beribu cobaan yang menimpa Khansa, harus tetap percaya bahwa Allah selalu berada disisi hambanya, dan selalu mendengar doanya. Selama kakak di luar negeri, kakak titip Bunda sama Ayah ya, jangan sampai buat mereka menangis, jangan sampai mereka sedih. Hanya ini yang bisa kakak sampaikan sama Khansa, semoga Khansa lebih dewasa ya menjalani hidup!..”
Suara itu adalah rekaman suara kakak Khansa, Ulya hana mahdyah. Sekarang ia berada di Kairoh melanjutkan kuliahnya. Ulya memberikan hadiah itu kepada Khansa saat ia ingin berangkat ke Kairoh, tiga hari sebelum ulang tahun Khansa. Saat Ulya memberikannya, Ulya berpesan kepada Khansa untuk membukanya saat satu hari setelah ulang tahun Khansa. Karena peristiwa kecelakaan itu, Khansa baru mengingat kado yang telah diberikan kakaknya kepadanya.
“ kalimat itu..,, mirip dengan kalimat Bunda.., apa kak Ulya di suruh sama Bunda, agar bisa menghibur ku “
Khansa lalu memasukkan kembali voice recorder itu di dalam kotak kado tadi dan menyimpannya dibawah ranjang. Hari itu ia merasa sangat lelah, mungkin karena beban fikiran yang membuatnya berat memikulnya, ia pun merebahkan tubuhnya di kasur springbed yang nyaman.

   Pada seperempat malam, seisi rumah di keluarga itu terlelap dari aktivitasnya seharian. Hanya Bunda dan Ayah Khansa yang bangun untuk mendirikan shalat tahujjud. Air mata Bunda tidak berhenti mengalir saat doa dipanjatkan, menyerahkan semua masalah kepada yang Maha Esa, menagadukan keluh kesahnya yang sangat berat dirasakannya. Saat setelah selesai shalat, mereka berbincang-bincang sejenak.
“ Ayah..” kata Bunda lirih.
“iya, kenapa Bunda?”
“ apa tidak sebaiknya kita membawa Khansa berobat keluar negeri? “
“ kita minta persetujuan dulu dengan Khansa, mungkin itu lebih baik “
“ iya, besok Bunda akan bicara dengan Khansa “
  Hari itu, seperti biasanya, rutinitas pada pagi hari ayah dan Bunda bersiap-siap ke kantor. Saat itu mereka berkumpul di meja makan.
“ Khansa mana yah? “
“ mungkin masih tidur Bun “
“ Bi, apa Khansa masih tidur? “
“ saya kurang tahu nyonya, tunggu saya pergi lihat dulu..”
“eh, tidak usah, biar saya yang kesana “

Bunda membuka pintu kamar Khansa, dan melihat gadis kecilnya itu sedang terlelap dengan memegang voice recorder di tangannya, Bunda hanya tersenyum melihat putrinya yang sangat ia cintai sudah tumbuh besar.
“kamu sudah melewati semuanya dengan baik gadis kecil, perjalanan dongeng mu sudah cukup, kamu harus bangkit, menjadi gadis yang periang seperti dulu, dimata Bunda Khansa tetap Khansa yang dulu, yang selalu membuat bunda bangga dan bahagia, kamu boleh marah sama Bunda, Bunda pantas mendapatkannya dari mu nak, tapi Bunda mohon, jangan putus asa, kita sudah separuh perjalanan, kamu akan sembuh nak” derai air mata terus bercucuran di pipi Bunda, Bunda hanya dapat berbicara seperti itu saat Khansa tidur, dia tidak sanggup mengatakan langsung kepada Khansa, ia terlalu lemah untuk berbuat demikian.
Setelah memastikn putrinya baik-baik saja, Bunda lalu mengecup kening Khansa dan bermaksud meninggalkan kamar, tetapi saat baru membalikkan badan…
“Bunda..”  Khansa meraih tangan sang Bunda.
“Khansa, kamu..”
“aku mendengar semuanya Bunda
“maafkan Bunda sayang..”
“aku sayang Bunda, aku tidak ingin kehilangan Bunda. Bunda benar, dongeng ini akan berakhir, berakhir dengan perjuangan seorang gadis kecil yang akhirnya akan sembuh dan bangkit seperti dulu lagi”
“Khansa…”
“aku akan sembuh kan Bunda?”
“iya sayang, Khansa pasti sembuh, Allah selalu bersama kita”  Bunda memeluk Khansa kali ini dengan air mata bahagia, sangat bahagia, akhirnya Khansa seperti dulu lagi, Khansa yang pantang menyerah, yang tidak akan mudah pasrah terhadap keadaan.
    Setelah 2 bulan keberangkatan mereka dari singapur, Khansa sudah mulai berjalan, dia sudah bisa melihat setelah menjalani operasi yang cukup panjang, ia kembali menjadi gadis yang periang. Ia menjadi inspirasi bagi semua orang bahwa perjuangan itu butuh kesabaran dan kerja keeras, pasrah akan keadaan itu bukan jalan yang tepat bagi orang yang ingin berhasil,saat kita jatuh, ingat! Kita harus bangkit, ini bukan akhir dari segalanya, masih banyak orang-orang disekitar kita yang selalu ada ditengah perjuangan kita.

                                   ~selesai~