Di sudut kamar yang
cukup luas , terlihat sosok perempuan duduk di kursi roda sedang memandang
langit biru melalui jendela kamarnya, ia selalu berharap ada secercah harapan
yang kan membawanya menuju kebahagiaan sejati, mengeluarkannya dari kegelapan
yang selama ini mengubur jiwanya, memberinya sayap untuk terbang melihat dunia
luar, harapan yang dulu ada pada diri kecil itu telah menjadi cerita belaka yang
hampir setiap hari mengusik telinganya. Harapan itu telah punah, telah
merenggut semuanya. Tapi ia selalu yakin bahwa itu semua adalah yang terbaik diberikan
oleh sang Khalik.
Zakkiyah
bakhitah khansa, seorang gadis kecil yang selama satu tahun ini
hidup dalam kegelapan, hanya bisa membawa harapan melalui mimpi, penyakit yang
menimpanya telah merenggut kebahagiaannya. Akibat kejadian itu, ia menjadi
gadis yang penyendiri, ia merasa minder dengan anak-anak sebayanya yang dapat
menikmati indahnya hidup, baginya, ia bagaikan seorang gadis yang tak berdaya,
menunggu apa yang akan terjadi pada dirinya, akan kah keajaiban itu datang ?, atau
malah musibah yang tambah menghancurkannya.
“ Sarapan dulu gadis kecil, Bunda sudah siapkan makanan
kesukaan Khansa…”
Sosok perempuan setengah baya, kira-kira berumur 45 tahun,
dengan suara yang penuh kasih sayang, dengan kelembutan, gerak gerik yang sangat
bijksana menghampiri gadis itu, Khansa. Bunda memeluknya dari belakang, begitu
hangatnya kasih sayang seorang Ibu.
“ Khansa sudah kenyang “
“ hmmm..,, masa sih?, coba dulu deh masakan Bunda, kalau sudah
coba satu kali pasti mau tambah “
“ kan Khansa sudah bilang, Khansa sudah kenyang “
“ ini Ayah bawakan makanannya…”
Sosok laki-laki
separuh baya, kira-kira berumur 47 tahun, membawa nampan yang diatasnya ada
beberapa piring dan mangkuk yang berisi makanan kesukaan gadis kecilnya itu.
Khansa hanya menggeleng
kepalanya, kali ini ia tidak mengeluarkan kata-kata lagi.
“ makan dulu sayang, sedikit saja, biar Bunda suapin yah..”.
bunda mengangkat mangkuk yang berisi sup jagung dan berusaha menyuap Khansa.
“ Khansa tidak lapar Bunda. Biarpun Khansa selalu makan, tetap
saja Khansa seperti ini, duduk di kursi roda dan hanya mengharapkan bantuan
orang lain, tidak bisa berbuat apa-apa “
Bunda yang mendengar kalimat itu serasa hatinya telah
tercabik-cabik, merasakan penderitaan gadis kecilnya itu.
“ kita harus tetap berusaha Khansa, bertawakkal kepada Allah,
Allah selalu mendengar doa kita,Allah selalu berada didekat kita “ . Mata Bunda
berkaca-kaca, tidak sanggup menahannya.
“ kalau memang begitu,
kenapa keajaiban itu belum datang, Allah tidak mendengar doa kita Bunda, dia
mengacuhkan kita “
Hati bunda terasa sangat sakit saat putrinya mengeluarkan
kalimat itu. Apa itu bentuk keputusasaan putrinya?.
“ Allah itu maha mendengar, kita harus percaya, ini adalah
yang terbaik untuk kita “
Air mata Bunda begitu deras membasahi pipinya, ia harus
beruasaha tegar di hadapan putrinya itu, ia harus tetap memberinya semangat
untuk sembuh.
Kecelakaan satu tahun
yang lalu telah melumpuhkan kedua kakinya, saat itu kedua orang tuanya memberinya hadiah untuk
merayakan hari ulang tahunnya di puncak bersama keluarga besarnya, tetapi
rencana Allah lain, mobil yang dilewati Khansa dan orang tuanya menabrak pohon
dipinggir jalan, untungnya kedua orang tuanya tidak mengalami luka yang parah. Tetapi,
Khansa yang saat itu dalam keadaan kritis, ia mengalami kelumpuhan pada kedua
kakinya, dan efek lainnya, ia menjadi buta. Ia berhasil melewati masa kritis
setelah 9 hari.
Setelah keadaannya
membaik, ia mencoba untuk kembali masuk ke sekolah, tetapi setelah seminggu,
Khansa memutuskan untuk homeschooling, ia memanggil guru privat untuk
membimbingnya dalam pelajaran umum maupun agama. Khansa adalah seorang anak
gadis yang penuh dengan semangat, kecelakaan waktu itu tidak cepat membuatnya
putus asa,tetapi mungkin keadaanlah yang membuatnya seperti sekarang ini, ia
menjadi pesimis akan kesembuhannya, akhir-akhir ini ia sering mengeluarkan
kalimat-kalimat yang membuat kedua orang tuanya sangat prihatin kepadanya,
terutama Ibunya. Ibunya selau menyalahkan dirinya sendiri, ia selalu diikuti
rasa bersalah, karena kado ulang tahunnya itu adalah usulan darinya, meskipun
Ayah selalu menasehatinya, tetapi ia selalu diikuti rasa bersalah itu.
“ Bunda kenapa? “
“ tidak apa-apa Ayah “
“ Allah melarang kita untuk berlarut-larut dalam kesedihan “
“iya, Ayah benar. Bunda selalu dihantui rasa bersalah, saat
kalimat-kalimat itu keluar dari mulut Khansa, Bunda merasa keputusasaan itu
muncul dari dirinya, Bunda tidak ingin itu terjadi, tapi Bunda tidak bisa
memaksa Khansa untuk berfikir seperti itu, karena Khansa wajar merasa seperti
itu “
“ apa maksud Bunda Khansa wajar merasa seperti itu?, ingat
Bunda, tidak ada yang mustahil jika kita terus berusaha dan bertawakkal kepada
Allah “
“ Bunda menyayanginya Ayah…” .
Derai air mata membasahi pipi sang Bunda,menangis
tersedu-sedu, betapa hatinya sangat terluka saat itu, ia juga merasakan
penderitaan gadis kecilnya.
Di dalam kamar, Khansa
terlihat sedang bersandar ditempat tidur, ia merasa hari-hari yang ia lewati
terasa hampa, hanya menunggu keajaiban datang.
Saat ia termenung, ia teringat sesuatu, saat ia sadar bahwa tidak
mungkin mencari benda itu tanpa bantuan orang lain, ia meminta tolong kepada
salah satu pembantu di rumahnya.
“ Bibi..,, Bii…!! “
“ iya non, ada apa ? “
“ tolong carikan aku sebuah kotak kado warna merah jambu, ada
pita disisi ujung kanannya, kayaknya aku simpan di lemari kecil dekat meja rias
“
“ baik non..”
Setelah beberapa
menit, Bibi pun menemukannya.
“ ini non..”
Setelah menemukannya, Bibi segera melanjutkan pekerjaannya di
dapur.
Khansa meraba kotak
kado itu lalu membukanya, dengan perlahan ia membuka tutup kotak itu dan
mengambil sebuah voice recorder, sebuah alat perekam suara. Saat ia menekan
tombol power, terdengar suara perempuan.
“ Khansa adik ku, selamat hari ulang tahun Gadis kecil, semoga
dengan bertambahnya umur kamu yang ke 11 tahun, Khansa menjadi gadis yang
berakhlak mulia seperti sayyidati Khadijah, secerdas sayyidati Fatimah. Khansa
harus menjadi perempuan yang tangguh, tidak cepat putus asa, walaupun beribu
cobaan yang menimpa Khansa, harus tetap percaya bahwa Allah selalu berada
disisi hambanya, dan selalu mendengar doanya. Selama kakak di luar negeri,
kakak titip Bunda sama Ayah ya, jangan sampai buat mereka menangis, jangan
sampai mereka sedih. Hanya ini yang bisa kakak sampaikan sama Khansa, semoga
Khansa lebih dewasa ya menjalani hidup!..”
Suara itu adalah rekaman suara kakak Khansa, Ulya
hana mahdyah. Sekarang ia berada di Kairoh melanjutkan kuliahnya. Ulya
memberikan hadiah itu kepada Khansa saat ia ingin berangkat ke Kairoh, tiga
hari sebelum ulang tahun Khansa. Saat Ulya memberikannya, Ulya berpesan kepada
Khansa untuk membukanya saat satu hari setelah ulang tahun Khansa. Karena
peristiwa kecelakaan itu, Khansa baru mengingat kado yang telah diberikan
kakaknya kepadanya.
“ kalimat itu..,, mirip dengan kalimat Bunda.., apa kak Ulya
di suruh sama Bunda, agar bisa menghibur ku “
Khansa lalu memasukkan kembali voice recorder itu di dalam
kotak kado tadi dan menyimpannya dibawah ranjang. Hari itu ia merasa sangat
lelah, mungkin karena beban fikiran yang membuatnya berat memikulnya, ia pun
merebahkan tubuhnya di kasur springbed yang nyaman.
Pada seperempat
malam, seisi rumah di keluarga itu terlelap dari aktivitasnya seharian. Hanya Bunda
dan Ayah Khansa yang bangun untuk mendirikan shalat tahujjud. Air mata Bunda
tidak berhenti mengalir saat doa dipanjatkan, menyerahkan semua masalah kepada
yang Maha Esa, menagadukan keluh kesahnya yang sangat berat dirasakannya. Saat
setelah selesai shalat, mereka berbincang-bincang sejenak.
“ Ayah..” kata Bunda lirih.
“iya, kenapa Bunda?”
“ apa tidak sebaiknya kita membawa Khansa berobat keluar
negeri? “
“ kita minta persetujuan dulu dengan Khansa, mungkin itu lebih
baik “
“ iya, besok Bunda akan bicara dengan Khansa “
Hari itu, seperti
biasanya, rutinitas pada pagi hari ayah dan Bunda bersiap-siap ke kantor. Saat
itu mereka berkumpul di meja makan.
“ Khansa mana yah? “
“ mungkin masih tidur Bun “
“ Bi, apa Khansa masih tidur? “
“ saya kurang tahu nyonya, tunggu saya pergi lihat dulu..”
“eh, tidak usah, biar saya yang kesana “
Bunda membuka pintu kamar Khansa, dan melihat gadis kecilnya
itu sedang terlelap dengan memegang voice recorder di tangannya, Bunda hanya
tersenyum melihat putrinya yang sangat ia cintai sudah tumbuh besar.
“kamu sudah melewati semuanya dengan baik gadis kecil,
perjalanan dongeng mu sudah cukup, kamu harus bangkit, menjadi gadis yang
periang seperti dulu, dimata Bunda Khansa tetap Khansa yang dulu, yang selalu
membuat bunda bangga dan bahagia, kamu boleh marah sama Bunda, Bunda pantas
mendapatkannya dari mu nak, tapi Bunda mohon, jangan putus asa, kita sudah
separuh perjalanan, kamu akan sembuh nak” derai air mata terus bercucuran di
pipi Bunda, Bunda hanya dapat berbicara seperti itu saat Khansa tidur, dia
tidak sanggup mengatakan langsung kepada Khansa, ia terlalu lemah untuk berbuat
demikian.
Setelah memastikn putrinya baik-baik saja, Bunda lalu mengecup
kening Khansa dan bermaksud meninggalkan kamar, tetapi saat baru membalikkan
badan…
“Bunda..” Khansa meraih
tangan sang Bunda.
“Khansa, kamu..”
“aku mendengar semuanya Bunda
“maafkan Bunda sayang..”
“aku sayang Bunda, aku tidak ingin kehilangan Bunda. Bunda
benar, dongeng ini akan berakhir, berakhir dengan perjuangan seorang gadis
kecil yang akhirnya akan sembuh dan bangkit seperti dulu lagi”
“Khansa…”
“aku akan sembuh kan Bunda?”
“iya sayang, Khansa pasti sembuh, Allah selalu bersama
kita” Bunda memeluk Khansa kali ini
dengan air mata bahagia, sangat bahagia, akhirnya Khansa seperti dulu lagi,
Khansa yang pantang menyerah, yang tidak akan mudah pasrah terhadap keadaan.
Setelah 2 bulan
keberangkatan mereka dari singapur, Khansa sudah mulai berjalan, dia sudah bisa
melihat setelah menjalani operasi yang cukup panjang, ia kembali menjadi gadis
yang periang. Ia menjadi inspirasi bagi semua orang bahwa perjuangan itu butuh
kesabaran dan kerja keeras, pasrah akan keadaan itu bukan jalan yang tepat bagi
orang yang ingin berhasil,saat kita jatuh, ingat! Kita harus bangkit, ini bukan
akhir dari segalanya, masih banyak orang-orang disekitar kita yang selalu ada
ditengah perjuangan kita.
~selesai~